Kajian Parenting

Montage dibuat Bloggif

Home Schooling, ya home schooling istilah ini udah familiar banget buat kita semua. Tapi sayangnya kebanyakkan orang masih berpikiran yang kalau home schooling itu ya mindahin sekolah ke rumah, padahal kan kenyataannya enggak kayak gitu. Terus masih banyak juga orang yang meragukan lulusan home schooling itu ke depannya entar kayak gimana, nah oleh karena itu saya di sini pengen mencoba sedikit berbagi apa itu homeschooling.

Home schooling sendiri lahir karena kekecewaan-kekecewaan orangtua di Eropa sekitar tahun 70an karena pendidikkan yang kok seakan-akan lebih memperhatikan kognitifnya saja, padahal kan enggak semua orang cerdas di kognitif,kalau kata Howard Gardner yang terkenal dengan teori kecerdasan majemuknya, jadi enggak bisa tuh menilai keberhasilan seorang anak hanya berdasarkan satu aspek saja.

Ya sekolah sekarang itu (khususnya di Indonesia) seakan-akan telah diseragamkan dengan suatu sitem yang memang mempersiapkan agar anak menjadi seorang saintis. Anak yang pinter itu ya anak-anak yang jago matematika dan IPA, sedangkan untuk pelajaran yang lainnya seakan-akan dipandang sebelah mata seperti kesenian dan olahraga misalnya.

Sekolah TK aja sekarang udah dicreate agar anak bisa melakukan ini-itu, matematika dan bahasa asing misalnya,padahal kan namanya juga Taman Kanak-kanak, mbo ya anak-anak seusia segitu kan masih butuh mengeksplore ini-itu. Pikirannya masih abstrak dan belum kongkrit lha ini diajarin yang emang ngawang banget anak enggak punya meaning atas apa yang ia pelajari. Masih inget dong lagu waktu TK “Tangan ke atas tangan kesamping, tangan ke depan duduk yang manis. Tangannya di lipat, mulutnya di kunci, kuncinya di buang” hayo masih inget kan. Nah, secara enggak langsung anak yang lagi seru-serunya nanya ini itu jadi enggak berani nanya-nanya lagi, karena toh suasana belajar yang baik itu yang hening enggak ribut, dan anak yang manis dan baik adalah anak yang enggak rewel banyak nanya dan duduk secara pasif. Sebaliknya kalau banyak nanya dan gak bisa diem pasti di cap anak nakal. Lantas bukankah dengan cara seperti itu secara perlahan telah membunuh insting anak untuk belajar dan mengetahui banyak hal hingga mengantarkan ia menjadi longlife learner. Makanya jangan heran jika semakin bertambahnya usia sekolah, akan sangat sedikit sekali murid yang bertanya di dalam kelas, karena ya dengan anggapan itu tadi kalau nanya berarti bodoh dan itu merupakan suatu hal yang memalukan.

Masuk sekolah penderitaan anak tidak berhenti sampai di situ, apalagi ketika anak dimasukkan ke sekolah plus atau Islam yang biasanya menambahkan begitu banyak mata pelajaran di luar mata pelajaran yang diampu Depdiknas. Anak di kondisikan dengan hapalan-hapalan begitu banyak tanpa anak benar-benar dibuat paham apa sih meaning dan value dari apa yang ia pelajari dan kenapa ia harus hapal. Kesuksesan mata pelajaran ya dinilai dari seberapa tinggi nilai ujian anak, bukan dari seberapa besar ia telah terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Itu lah mengapa rasanya kini sulit sekali membedakan mana output dari sekolah Islam dan bukan, karena toh kebanyakkan juga ya hasilnya nggak beda jauh.

Saya jadi berpikir kalau terus-terusan sistem pendidikkan yang diterapkan di negara ini terus saja seperti ini, ya saya kok jadi berpikir udahlah anak saya entar homeschooling saja. Saya enggak mau insting belajar anak saya mati sehingga ia (motivasi belajarnya) hanya karena kejar nilai tanpa paham meaning and valuenya seperti apa.

Nah, homeschooling sendiri banyak jenisnya dan yang udah terkenal itu HSKS (Home Schooling Kak Seto) yang telah tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Kalau di analisis sebenernya HSKS enggak beda jauh sama sekolah biasa cuma HSKS karena bentuknya komunitas jadi ya ada kelasnya juga kayak sekolah umum cuma bedanya di HSKS enggak pake seragam dan biasanya satu kelas itu jumlahnya cuma lima orang jadi setiap guru dapat dengan mudah memantau perkembangan setiap siswa, dan menariknya HSKS ini masuknya siang jadi enggak ada tuh alesan masih ngantuk pas masuk kelas. Kurikulum HSKS disesuaikan dengan Depdiknas tentunya dengan beberapa modifikasi, dan satu hari di HSKS cuma satu mata pelajaran jadi anak benar-benar fokus atas apa yang ia pelajari.

Nah tapi model yang ini enggak begitu saya suka. Ada juga homeschooling Ayah Edy yang sepengetahuan saya itu lebih menekankan kepada apa yang menjadi kelebihan anak, jadi anak hanya fokus pada minatnya saja. Kalau saya pikir dengan fokus pada kelebihan anak justru akan cepat mengantarkan anak pada kesuksesan, karena apa yang ia pelajari dia enjoy ngejalaninnya toh itu minat dia, dan intinya anak punya motivasi besar sehingga ilmu yang ia pelajari benar-benar mengandung meaning and value.

Pertanyaannya sekarang emangnya anak home schooling bisa sukses? Toh pada kenyataannya di negara kita izasah itu segalanya, terus gimana kalau mau melanjutkan ke perguruan tinggi, PTN misalnya. Jangan cemas, karena ternyata pemerintah udah punya UU mengenai homeschooling ini, jadi gak usah khawatir karena bukan lulusan sekolah biasa. Sedikit cerita dosen saya anak pertamanya homeschooling terus dia ngelanjuttin S1 nya di hukum UI hingga S2 dan S3 dia nerusin di Amerika dan sekarang bekerja di perusahaan besar Amerika. So homeschooling udah enggak diragukan lagi. Ketika anak ikut homeschooling itu pilihan setelah lulusnya dua, apakah ia mau lanjut ke pendidikkan yang katakanlah seperti Pergutuan Tinggi, nah ujiannya tinggal ikut ujian persamaan dengan sekolah formal lainnya, hanya ya itu izasah anak homeschooling izasah persamaan. Beberapa PTN seperti UI mengakui kok lulusan homeschooling.

Saya ada beberapa cerita keberhasilan anak yang ternyata memilih untuk berhenti sekolah formalnya. Saya mendapat kisah ini dari talkshow Ayah Edy di Smart FM.

Ceritanya ada anak laki-laki usianya SD kelas lima apa enam (saya lupa) tiba-tiba dia mogok sekolahnya. Orangtuanya bingung kok mogok sekolah, memangnya mau jadi apa kalau mogok sekolah. Tapi anaknya bersikeras tidak mau sekolah dan tidak mau menjelaskan apa yang membuat dia mogok sekolah. Akhirnya orangtuanya bingung dan menghubungi Ayah Edy, Ayah Edy melakukan pendekattan-pendekattan dengan kalimat pembuka “Sekolah itu tidak penting, yang terpenting adalah mimpi. Tidak apa-apa kamu tidak sekolah asalkan kamu punya mimpi,kalau enggak punya mimpi mendingan mati aja. Nah sekarang apa mimpi kamu?” akhirnya anaknya cerita kalau dia merasa bosan di sekolah karena pelajarannya tidak ia suka dan ia bercita-cita untuk menjadi seorang pemain piano klasik. Singkat cerita Ayah Edy memberitahukan hasil berbincangan tersebut kepada ayahnya. Awalnya ayahnya kaget, lha mau jadi apa kalau tidak sekolah. Tapi ayah Edy menasihati, hingga akhirnya ayahnya luluh juga dan secara resmi mengeluarkan anaknya dari sekolah formal dan memasukkan anaknya ke sekolah musik.

Ternyata memang betul, anak tersebut bakatnya memang di musik. Dalam waktu beberapa bulan dia dengan begitu cepat menguasai beberapa musik klasik yang memang butuh kemampuan tingkat tinggi, hingga gurunya memindahkan anak itu ke kelas yang isi kelasnya kebanyakkan orang dewasa. Karena kemampuannya yang luar biasa ini lah gurunya mengusulkan agar anak tersebut dibuatkan konser tunggal, hingga karena konser tersebut mengantarkan anak tersebut meraih penghargaan Muri sebagai pianis termuda dengan memainkan (kalau tidak salah) 5 lagu yang memang benar-benar sulit, dan kemampuan ini mengantarkan salah satu sekolah musik ternama di Australia menawarkan beasiswa penuh plus dengan biaya hidup. Kini anak tersebut sekolah di sekolah musik Australia tersebut. Candaan Ayah Edy waktu itu, takutnya nanti sudah besar anak tersebut lupa pulang ke Indonesia dan menjadi warga negara di sana.

Yang tidak kalah menarik adalah, seorang anak perempuan yang sekolah di salah satu SMA Internasional, dan lagi-lagi ia mogok sekolah. Jadi ceritanya anak tersebut pengen jadi seorang dancer, otomatis kedua orangtuanya yang bergelah PhD kagetnya bukan main, secara dancer apa coba yang mau dibanggain, tapi lagi-lagi anaknya ngotot. Begitupun Ayah edy yang enggak kalah kagetnya, keluarga dia semuanya terpelajar lha ini masa mau jadi dancer, hingga ayah Edy ngasih tantangan, ok kamu kalau mau jadi dancer ayah pengen lihat kamu menari, nanti kamu buat vidionya nanti ayah lihat. Dan ketika Ayah Edy melihat vidionya ayah Edy melihat bahwa anan ini benar-benar berbakat. DEngan perbincangan dan sedkit nasihat dari Ayah Edy, akhirnya keluarganya luluh juga dan lebih menuruti apa kemampuan anak untuk sekolah dancer, dan sekarang anak tersebut sekolah di salah satu sekolah dancer Eropa ternama dan masuk ke dalam 10 dancer muda dunia yang berbakat.

Nah kalau yang ini dia emang homeschooling. Jadi ceritanya ia fine-fine aja sih sebenernya sama sekolah formalnya, nilainya juga bagus-bagus tapi ya itu tiba-tiba dia jadi seorang yang berprikebadian egois. Sepulang sekolah marah-marah mulu singkat kata jadi orang yang emosian lah. Ayah nya bingung atas perubahan sikap anaknya ini dan menghubungi Ayah Edy yang kebetulan merupakan tetangga dekat rumah. Setelah melakukan perbincangan kecil antara Ayah Edy dan anak tersebut, ditariklah kesimpulan kalau anaknya tidak mau melanjutkan pendidikkan formalnya, dan dengan berat hati ayahnya mengeluarkan anaknya dari sekolah formal.

Minat anak tersebut pada bidang otomotif dan elektronik lebih spesifiknya sepeda motor, hingga sekarang ia benar-benar mendalami minatnya ini dan mulai merancang model-model sepeda motor.Ikut pelatihan ini-itu hingga sekarang kabarnya ada dua orang profesor dari Jepang yang menawari beasiswa full untuk melanjutkan studi di negri Sakura.

Tidak, saya tidak berusaha mengompori bahwa sekolah konvensional kini begitu buruk dan yang terbaik adalah homeschooling. Homeschooling merupakan sekolah alternatif jika Anda merasa sekolah formal memang dirasa tidak cocok dengan tumbuh kembang anak Anda. Hanya saja saya berpikir bahwa untuk apa keluar banyak uang dan tenaga untuk sesuatu hal yang ternyata belum tentu mengantarkan anak pada potensi yang sebenarnya. Dengan menyadari apa potensi anak lebih awal dan memang hanya fokus pada titik tersebut tentunya akan semakin cepat mengantarkan anak pada kesuksesan yang tentunya bukan hanya kesuksesan tapi kebahagiaan karena ia berada di jalannya. Saya percaya ketika anak memiliki motivasi tinggi untuk belajar mengenai suatu hal maka tentunya ia akan menjalankan studinya dengan sungguh-sungguh karena toh apa yang ia pelajari punya meaning and value tersendiri. Kalau inget kata-kata dosen saya seharusnya ketika Anda telah lulus sebagai sarjana Anda dapat membiayai hidup Anda dengan ilmu yang Anda punya, tapi kan permasalahannya sekarang angka pengangguran sarjana begitu tinggi, hal ini menandakan bahwa ternyata ilmu yang Anda pelajari untuk meraih gelar sarjana itu tidak memiliki meaning and value bagi Anda toh pada kenyataannya Anda bingung dengan implementasinya, jadi koreksi lagi apakah Anda belajar hanya untuk sebuah nilai dan gelar sarjana?.

sumber : http://sani-atu.blogspot.co.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s